Bismillaah...

Pelajaran TERBAIK dari Semi Parka yg kekecilan...

 

Yudana sering merisaukan urusan rejeki, padahal rejeki tak pernah salah untuk takarannya, waktu tibanya, dan kepada siapa rejeki itu menjadi hak penggunanya...

 

Yudana sering merisaukan takaran rejeki, padahal Dia Ar-Rozzaaq sungguh Maha Presisi dalam membagi jatah rejeki yang harus sampai di tempat tujuan di setiap orde terkecil waktu, mikro detiknya...

 

Yudana sering merisaukan kapan Yudana bisa kaya? Jika memang setiap orang berhak kaya.

 

Kemudian kerisauan itu terjawab hari ini dengan hikmah di balik pesanan online Semi-Parka yang kekecilan.

 

Sebelumnya, Yudana telah memesan pakaian Semi-Parka demi menunjang aktivitas outdoor Yudana sebagai broker properti di Bandung.

 

Semi-parka dan pakaian sejenis lainnya bermanfaat bagi seorang broker properti seperti Yudana dengan tingkat mobilitas tinggi. Semi-parka memberikan manfaat maksimal bagi agen pemasar yang sering bertemu klien dalam balutan momen-momen semi formal.

 

Dengan sebuah semi-parka, Yudana tidak perlu melucuti setelan motoris Yudana ketika bertemu klien. Lain halnya jika Yudana mengenakan jaket motoris resmi, tentu terkesan tidak menghormati klien jika Yudana nekat mengenakannya. Apalagi jika bahannya dari parasut, wah alamat bakalan ditinggal oleh klien.

 

Nah, ceritanya setelah paket sampai, Yudana buka paketnya dan dicoba semi-parkanya. Rupanya pesanan semi-parka Yudana kekecilan walaupun sebelum memesan, dengan antisipasi tingkat tinggi karena khawatir salah ukuran, Yudana ukur lebar pundak dan panjang lengan (dengan bantuan istri). Matching di level L. Namun setelah dikenakan, semi-parka itu rupanya kekecilan.


Inilah fakta jika online shoping tidak cukup bagus untuk meraih tingkat kepuasan pelanggan di item pakaian dan kali yang lain, Yudana mendapatkan pengalaman yang tidak jauh berbeda untuk item sepatu. Untuk kasus sepatu itu, Yudana harus berulang kali menukar beberapa sepasang sepatu. Ribet? Memang. Dan bukan hanya itu, beban ongkir untuk beberapa kali penukaran, dibebankan kepada Yudana.


Sehingga untuk kasus semi-parka kali ini, alih-alih Yudana menukarnya dengan ukuran yang diharapkan bisa fit dengan ukuran tubuh ini, maka Yudana berniat untuk mensedekahkan semi-parka itu kepada teman Yudana. Sayang, iya sih karena semi-parka itu bagus dari bahan dan desain.TAPI mungkin sudah saatnya Yudana dan Anda untuk belajar memberikan apa yang terbaik dari yang kita punya. Itulah kebajikan yang sempurna.


لَن تَنَالُوا۟ ٱلْبِرَّ حَتَّىٰ تُنفِقُوا۟ مِمَّا تُحِبُّونَ ۚ وَمَا تُنفِقُوا۟ مِن شَىْءٍۢ فَإِنَّ ٱللَّهَ بِهِۦ عَلِيمٌۭ


Kamu sekali-kali tidak sampai kepada kebajikan (yang sempurna), sebelum kamu menafkahkan sehahagian harta yang kamu cintai. Dan apa saja yang kamu nafkahkan maka sesungguhnya Allah mengetahuinya.

 

(Ali 'Imran 3 : 92)

 

Anyway, Pesan moral dari semi-parka yang kekecilan itu:

1. Secara matematis, kita berusaha untuk mensinergikan prospek rejeki dengan ikhtiar diri, tapi jika Ar-Rozzaaq belum memerkenankan prospek itu berbuah rejeki, maka ikhlashkan saja. PASTI itu yang terbaik bagi kita. Tetaplah berikhtiar dan berdoa, juga bersabar dan bersyukur.


2. Pernahkah kita menakar dengan kejujuran ukuran rejeki kita. Kita pantas mendapatkan ukuran rejeki yang mana? S/M/L/XL? Atau XXS? Atau XXL?


Daripada berkubang dalam sikap menggerutu tak tentu, dan terus memertanyakan keadilan Ilahi, lebih baik kita semakin memantaskan diri di hadapaNnya sebagai hambaNya yang layak mendapatkan hadiah yang lebih besar yang teristimewa, yan tidak banyak dari hambaNya yang mampu mendapatkannya. Walloohu a’lam…

 


0



Guci Lodaya

Sepasang mata melirik kepada sebuah guci warisan orang tua. Tatapan itu berselimut muslihat.

“Tidak dengan Guci Lodaya itu, Kirkof!”

Nikof segera beranjak demi meraih sebuah guci tua berlukis harimau putih di sudut ruangan. Kirkof tidak ambil diam. Dengan sigap, ia berhasil memeluk guci itu. Erat.

“Kembalikan guci itu ke tempatnya semula, Kirkof! Aku memohon…”

Kirkof menggeleng.

“Itu bagianku sepeninggal Mami-Papi!”

“Tapi aku butuh guci ini. Harga di pasar gelap lumayan untuk menyambung hidup…”

Nikof menghela napas.

“Yang benar saja! Itu guci keramat, Kak! Harganya nyaris menyamai harga rumah ini! Aku masih punya sisa tabungan dari hasil freelance. Kakak boleh pake… ”

“Alaah! Paling berapa sih tabunganmu. Dipake sehari langsung ludes… biaya di Bandung hari gini selangit!”

Nikof berpaling. Tak ada gunanya meneruskan perdebatan.

“Hai bocah! Jadi boleh ya aku jual guci ini?”

Nikof bergeming. Ia menaiki anak tangga ke lantai dua. Ada pekerjaan edit foto di sana.

Di malam berikutnya, hati Nikof resah. Kerasahan ini jauh melebihi dari sekedar kehilangan guci warisan. Hatinya bertaut mengkhawatirkan Kirkof. Tak biasanya ia menyalakan layar gawai demi mengontak Kirkof.

“Lagi makan enak dari hasil jual guci ya, Kak?”, hatinya menghibur, mencoba mengelabui kondisi diri sebenarnya.

Hape Kirkof tak aktif. Keresahan Nikof semakin menjadi. Kakak lelakinya itu terlalu liar baginya. Hobi Kirkof di dunia bela diri nyaris membuatnya tiada. Tendangan di rahangnya membuatnya koma selama delapan hari. Bukannya jera, lelaki itu malah sekarang menggeluti bisnis pertandingan MMA.

Pandemi Corona menerjang bisnis MMA Kirkof. Kebijakan social distancing yang mulanya sekedar anjuran, kini berkembang menjadi peraturan pemerintah daerah. Ratusan jadwal pertandingan dibatalkan, kesempatan meraup puluhan milyar menguap begitu saja.

“Kirkof, dimana kamu?”

Nikof sudah tidak peduli lagi dengan Guci Lodaya. Ia ingin Kirkof kembali. Ia khawatir jika pesan mendiang Papi tentang guci itu menjadi tuah bagi Kirkof: “Sejarah guci ini kelam. Guci ini adalah guci berdarah. Karena nilai ekonominya, banyak pihak bernafsu memilikinya. Nanti kalo Papi sudah tiada, jaga baik-baik guci ini…”

Nikof kalut. Imajinasinya melayang.

“Jangan-jangan guci itu meminta darah Kirkof…”

“Tidak-tidak! Darah Kirkof jauh lebih berharga daripada guci itu, setiap tetesnya jauh lebih berharga…”

Tapi dimana Kirkof?

Putar otak Nikof mencari petunjuk keberadaan Kirkof. Di kamar kakak lelakinya itu sedikit pun tidak membuatnya lebih baik. Tidak pula lebih tenang. Tak ada satu petunjuk pun yang bisa ditahbiskan menjadi sebuah benang merah, kecuali satu: gantungan kunci bermata kepala macan putih dengan lumuran merah di area mulut.

“Ini apa?”

Malam itu menjadi malam yang panjang bagi Nikof. Kuota internetnya ia habiskan demi menghimpun informasi misteri kepala macam putih itu. Puluhan blog ia kunjungi, puluhan laman facebook, puluhan channel Youtube. Semua mengarah pada satu nama: EBC (Eyang Bodas Community), sebuah perkumpulan free running dengan anggota terbesar sekota Bandung. Demikian versi daringnya.

Free running itu kedok belaka…”, tukas Mang Kohir,seorang mantan anggota EBC.

“Aslinya mereka itu sebuah kartel, mafia. Mereka beroperasi di lapangan. Mereka merongrong dengan elegan, tapi tidak ragu-ragu berbuat nekat jika dibutuhkan.”

“Termasuk menghabisi Kirkof-ku?”

“Bisa jadi…”

“Jadi Aku harus bagaimana?”
“Hubungi nomor ini … ”

“Ini nomor siapa, Mang?”

“Kamu gak usah banyak tanya. Hubungi saja…”

Sejenak Nikof menekan kombinasi angka di hapenya. Kaget bukan kepalang karena nomor itu rupanya sudah pernah ia simpan sebelumnya.

“Broker.Yudana.Confident.Pro?”

Dahi Nikof berkerut.

“Ada yang ga beres dengan nomor itu?”, tanya Mang Kohir.

“Iya. Rupanya aku sudah pernah nge-save nomor ini. Ini nomor Pak Yudana, broker properti yang bantu jualkan rumah mendiang Papa…”

“Manusia adalah makhluk sempurna yang pernah Tuhan ciptakan. Manusia boleh menjadi apa pun sesuka hati. Jadi kalo Mas Ukasya di versiku yang jago melakukan trik free running dan Pak Yudana di versimu yang jago jualan properti adalah orang yang sama, masalah buatmu?”

“Ga masalah sama sekali. Tapi apa yang bisa Pak Yudana perbuat di luar topik properti?”

“Sudah, jangan turuti kebimbanganmu. Segera hubungi dia kalo kamu masih berharap Kirkof-mu kembali…”

Di ujung sana, seorang lelaki berotot tengah melakukan ritual paginya, sepaket pekerjaan lelaki sejati: menggendong anak keempatnya seraya menjemur pakaian. Sedangkan pikiran lelaki itu terikat dengan sepotong pindang tongkol di atas penggorengan. “Jangan sampai gosong… jangan sampai gosong…”

Telepon berdering. Secepat kilat Pak Yudana menyambar hape Infinix-nya dari kekuasaan anak ketiganya…

“Sebentar ya Mas Kafin, ayah pinjam dulu hapenya. Lihat Youtube-nya bisa nanti-nanti lagi…”

Anak ke empat Pak Yudana sudah beralih hak pengasuhan kepada sang istri.

“Telepon dari siapa, Yah?”

“Ini dari pemilik rumah Jl.Lodaya yang sepekan lalu baru saja di-listing. Mudah-mudahan ada kabar baik…”

Pak Yudana segera manjat pohon jambu air. Di sana ia mendapatkan sinyal terbaik operator seluluernya. Sesaat terjadi obrolan jarak jauh tiga meter di atas permukaan bumi.
Pesan telah diterima. Pak Yudana segera meluncur turun dari pohon jambu air dengan cara tak wajar.

“Ayah harus segera bergegas. Jika Ayah tak kembali, ikhlaskan ya, Bun. Hasbiyallaah…”
“Ayah mau kemana?!”

Pertanyaan itu belum lekas terjawab hingga Pak Yudana melesat bersama Beat berjok sobeknya.

====================

Cerpen di atas sebuah hadiah teristimewa dari Yudana kepada pemilik sebuah rumah di Sayap Lodaya yang sekaligus teman lama di SMA Krida Nusantara yang telah memberikan kepercayaan kepada Yudana untuk membantu jualkan rumah tersebut.

Judul Guci Lodaya terinspirasi dari pemandangan interior rumah tersebut yang banyak menampilkan barang-barang antik di beberapa sudut ruangan, termasuk kehadiran sebuah guci di ruang tamu.

Jika Anda berminat menjadi bagian dari cerita Guci Lodaya, ada syaratnya, dan itu mudah. Bantulah kehidupan Nikof dengan membeli rumah ini, sehingga Yudana akan membuat kelanjutan cerita ini menjadi happy ending untuk semua. 

Jika Anda berminat dengan rumah Nikof ini, berikut data spesifikasinya:

LT / LB : 220 / 660
KT / KM : 5+1 / 5+1
SHM, Jetpump, 5500w
Harga turun dari 4,18M nego jadi 3,8M nego (Nikof ingin segera terjual rumah Papi-nya) 

info lebih lengkap untuk rumah Nikof, Klik di Sini...

0

Bismillaahir-rohmaanir-rohiim…
Aku bukan seorang kapiten. Tentu aku tak punya pedang panjang. Setiap kali berjalan, langkah-langkah kakiku pun tak sampai menghentak prok-prok-prok. Karena aku bukan seorang kapiten.
Aku Yudana. Aku bekerja di sebuah kantor agen properti di Bandung. Walau berkerja kantoran, aku tidak terikat jam kerja dari sembilan  ke lima. Jam kerjaku seutuhnya fleksibel. Gajiku pun fleksibel. Aku tak memiliki gaji tetap kecuali komisi dari hasil penjualan properti. Artinya jika tak ada penjualan properti, tak ada pula pemasukan bagiku untuk menafkahi keluarga.
Ini masuk tahun ketiga antara aku, dunia properti, dan harapan kesejahteraan. Nyatanya aku belum sejahtera. Uang komisi yang datangnya tidak bisa dijanjikan setiap bulan seakan hard come eazy go, sudah susah didapat namun begitu mudahnya lenyap. Aku kemudian berpikir mungkin ada yang salah dengan bisnisku, kinerjaku, atau mungkin tentang bagaimana aku mengelola keuangan.
Sebagai seorang muslim yang terus-menerus dalam ikhtiar takwa, tentu di setiap momen komisi cair selalu aku sisihkan porsi kewajiban zakat hartanya. Aku berharap, dengan penunaian ini timbullah ketenangan hati dan keberkahan dari sisa hartaku.
Nyatanya hati ini resah, apalagi menjelang tanggal tua. Belum genap satu bulan, komisi nyaris ludes. Atau jika bisa lebih berhemat maka cukup pula membiayai hidup keluargaku sebulan penuh. Namun itu pun tanpa kemampuan menyisihkan sebagiannya sebagai tabungan.
“Mungkin Pak Yudana belum mengambil manfaat #AyoHijrah…”, seorang kolega menyarankannya.
“#AyoHijrah? Apakah itu semacam trending topic di Twitter?”, dengan lugunya aku coba cari tahu.
“Bukan, itu layanan perbankan syariah dari Bank Muamalat Indonesia… Ada beragam program #AyoHijrah yang bisa Bapak Yudana pilih sesuai kebutuhan.”
“Menarik!”, mendadak aku terpikat dan ingin tahu lebih mendalam janji kebermanfaatan maksimal dari program-program finansial #AyoHijrah.
Berikut program #AyoHijrah yang boleh aku pilih suka-suka…
  • Tabungan iB Hijrah
  • Tabungan iB Hijrah Haji dan Umrah
  • Tabungan iB Hijrah Rencana
  • Tabungan iB Hijrah Prima
  • Tabungan iB Hijrah Prima Berhadiah
  • Deposito iB Hijrah
  • Giro iB Hijrah
Jika sanggup memilih semua, aku akan pilih semua program #AyoHijrah karena aku butuh tabungan yang mampu mengendapkan komisiku lebih lama, maka aku sungguh butuh Tabungan iB Hijrah. Karena aku ingin segera menunaikan ibadah haji atau umroh, ingin sekali aku mengambil program Tabungan iB Hijrah Haji dan Umroh. Dan karena aku juga punya rencana lama yang masih belum terwujud, membuka resto ala carte, maka aku sangat berminat untuk membuka rekening di Tabungan iB Hijrah Rencana.

Tapi dalam waktu dekat ini, dengan memertimbangkan kondisi logis keuanganku, maka aku memprioritaskan untuk mengambil dahulu Tabungan iB Hijrah.

Insya Allah dengan Tabungan iB Hijrahku, ia membersamaiku menjalani proses hijrah finansialku. Terlebih aku percaya kepada Bank Muamalat Indonesia yang sudah berpuluh tahun menjaga komitmen sebagai bank syariah terdepan di negeri ini. Sudah beragam penghargaan diraihnya, baik dalam maupun luar negeri. Ini bukti kinerja maksimal dan begitu prosedural.

Sudah menjadi budaya perusahaan Bank Muamalat Indonesia untuk menjunjung tinggi nilai keamanan, karena sejatinya uang nasabah adalah amanah, itu akan dipertanggung-jawabkan dunia-akhirat. Ini sejalan dengan misi perusahaan: “Membangun lembaga keuangan syariah yang unggul dan berkesinambungan dengan penekanan pada semangat kewirausahaan berdasarkan prinsip kehati-hatian, keunggulan sumber daya manusia yang islami dan professional serta orientasi investasi yang inovatif, untuk memaksimalkan nilai kepada seluruh pemangku kepentingan.”. Mendapatkan pengawasan ketat OJK (Otoritas Jasa Keuangan) sudah menjadi harga mati dalam membangun kredibilitas yang tak diragukan lagi.

Bersama Bank Muamalat Indonesia, mari kita giatkan semangat berekonomi atas dasar syariat, menyuburkan nilai-nilai shodaqoh, dan memeratakan kemakmuran kepada seluruh rakyat Indonesia. Alloohummaa aamiin Yaa Robbal Aalamiin…

Sumber image: dari sini...




0


Bismillaah...

Masih dengan kelanjutan dari SOP broker properti. Kali ini 
Yudana akan membahas seputar mengantar buyer setelah di pembahasan sebelumnya Yudana mencoba mengulas tentang merespon buyer.

Skenario terbaik dari seorang broker properti dalam merespon buyer adalah pengarahan pembicaraan di telepon kepada opsi survei lokasi (surlok).

Anda perlu bertenang hati dalam berjual-beli properti selama dalam jual beli properti itu Anda dibantu oleh broker properti profesional, yang mengerti bahwa bekerja itu harus dalam urutan rapi SOP tanpa dusta. 

Broker properti profesional tentu akan menjaga kode etik perbrokeran. Ia tidak menjual properti abal-abal. Berhasil membantu menjualkan properti milik orang adalah syariatnya mendapatkan rejeki. Sekali saja berlaku culas, oh tentu itu sudah cukup untuk memecatnya seumur hidup dari dunia bisnis properti. 



Broker properti menjual properti sebagai barang jualan nyata, ada lokasi dan bentuknya. Bukan menjual serupa barang imajiner. Walau kadang ada proyek properti indent, namun tetaplah properti itu dibangun di atas kavling nyata. Sehingga biar tidak selling cat inside the sack, menjual kucing dalam karung, maka kucingnya harus dikeluarkan dari dalam karung, maka buyer harus tahu seperti apa kondisi nyata dari properti yang akan ia beli. Tugas broker propertilah memastikan itu. Benar satunya dengan cara mengantar buyer survei lokasi.

Dalam mengantar buyer, ada serangkaian prosedur yang penting diperhatikan. Harapannya dengan tertib-patuhnya broker terhadap runtutan prosedur ini, insya Allah tertanam kesan baik dan kepercayaan dari buyer kepada broker.
  1. Survey Schedule Request,

  2. atau pengajuan jadwal surlok. Broker properti biasanya bertindak sebagai inisiator. Ia menawarkan bilamana properti bersangkutan akan disurlok. Namun dalam beberapa kasus buyer-lah yang lebih kebelet mengajukan jadwal surlok. Baik broker sebagai inisiator maupun buyer yang ingin segera melihat properti, biasanya tanggal dan jam surlok dimunculkan dari pihak buyer. Akan tetapi broker belum bisa mengiyakan tanggal dan jam tersebut sebelum melakukan konfirmasi ketersediaan dari pihak owner.

  3. Owner Availability Confirmation,

  4. pengajuan jadwal surlok dari buyer kemudian dinformasikan kepada pihak owner sebagai ikhtiar konfirmasi. Jika pihak owner tidak berhalangan, maka pengajuan surlok tersebut akan segera disetujui. Namun jika tidak, maka buyer diminta untuk menjadwalkan ulang. Berhalangannya owner bisa disebabkan beberapa alasan, di antaranya: pengajuan surlok ada di hari pekan, sedangkan owner adalah seorang karyawan yang hanya mendapatkan hari libur di akhir pekan. Pengajuan surlok mendadak, hanya beberapa jam di hari yang sama, tentu jika owner tidak sedang di rumah, memang siapa yang akan bukakan pintu? 

  5. Schedule Dealing,

  6. jika kesepakatan jadwal surlok disetujui ketiga belah pihak (broker-owner-buyer), maka selanjutnya broker properti menyarankan kopdar kepada buyer di satu tempat yang mudah ditemukan dengan objek ancer-ancer yang eye catching, sebelum pada akhirnya keduanya berangkat bersama menuju lokasi properti yang dimaksud.

  7. D-Day Escort,

  8. hari-H pengantaran. Yang perlu diperhatikan di hari-H pengantaran adalah broker mengonfirmasi ulang atau minimal mengingatkan kembali baik pihak buyer maupun owner akan hajat jadwal surlok yang waktunya telah disepakati bersama. Pastikan juga di hari-H pengantaran broker mendapatkan info tentang kendaraan apa yang akan buyer gunakan demi menuju lokasi. Ingat, jangan sampai keluar kosakata motor atau mobil dalam pertanyaan broker ke buyer, cukup bertanya dengan "Bapak/Ibu nanti pakai kendaraan apa ya?" karena itu lebih nyaman baik bagi buyer pengendara mobil maupun motor.

  9. Meeting Up on The Spot,

  10. apa yang broker lakukan waktu kopdar bersama buyer? Tidak banyak, hanya mencocokkan kendaraan dan nama buyer bersangkutan. Jangan sampai gegabah, jangan sampai salah orang! Jika dua informasi itu cocok, mari kita kemon! Broker meminta buyer mengikutinya dari belakang. Pastikan broker mengendalikan laju kendaraan, jangan terlalu pelan, apalagi terlalu kencang. Atur kecepatan di rentang yang membuat buyer nyaman mengikuti broker.

  11. Make Everybody Comfortable,

  12. tetiba di lokasi properti bersangkutan, buat semua pihak merasa nyaman. Broker tidak berdosa untuk menebar senyum simpul, senyum ringan, asal jangan senyum nyinyir. Broker pun tidak berdosa jika bersikap SKSD, sok kenal sok dekat, kepada kedua belah pihak. Pastikan broker untuk tidak lupa menghilangkan jarak canggung antara buyer dan owner dengan upaya broker saling memerkenalkan nama antara owner dan buyer.

  13. Be a Good Listener,

  14. jika properti itu berupa rumah yang masih dihuni, maka tidak banyak yang harus broker lakukan setelahnya. Owner sudah mewakili tugas presentasi properti, dan broker tinggal membahkan satu-dua data pendukung. Broker bertindak seumpama ikan remora yang terus menguntit kemana pun hiu berenang (jangan gagal paham ya, bukan maksud buyer sama dengan hiu!). 

  15. Catch Buying Signal!,

  16. broker boleh tidak banyak bersuara, boleh menjadi pendengar yang baik, tapi broker wajib mampu menangkap sinyal beli dari buyer terhadap properti yang dilihatnya. Jika sinyal beli itu tidak terlihat, maka bisa jadi buyer belum cocok dengan properti bersangkutan. Nah, tugas broker selanjutnyalah mengantarkan kembali buyer untuk melihat properti alternatif dan ini biasanya juga sudah disepakati di awal bahwa di hari yang sama akan surlok di beberapa lokasi. Sinyal beli sendiri bisa terlihat dari antusiasme buyer terhadap properti bersangkutan. Mengecat ulang dengan warna favorit, menata ulang interior, hingga ingin merombak beberapa bagian ruangan, adalah contoh dari respon antusiasme itu. Namun sinyal beli tidak selalu berpola demikian, karena buyer memang punya gaya sendiri-sendiri dalam merespon kecocokan. Kadang dengan bahasa tubuh manggut-manggut atau bahkan diam saja. Manusia memang unik, bukan? Jika semua sinyal beli itu tidak ada, bisa jadi sinyal belinya diwakili dengan yang satu ini: buyer segera buka harga penawaran. 

  17. Don't Expect Too Much!

  18. Anda pikir setiap buyer yang berhasil Anda antar akan berakhir dengan deal, booking, jualan? Sayangnya tidak. Itu hanyalah fantasi broker pemula. Dan seiring bertambahnya jam terbang,  pada akhirnya broker akan terbangun dari tidurnya, akan mulai terbiasa dengan rantai realitas berlumur kegagalan. Pengalaman itu mendewasakan. Boleh berharap, namun jangan berharap lebih. Jangan berharap kepada makhluk, berharaplah kepada Kholik. Sehingga di setiap episode kegagalan tidak disikapi dengan sakit hati dan putus asa, tapi dengan kelapangan dada bahwa jatah rejeki itu sudah dengan begitu adilnya sang Kholik mengaturnya. Takaran Ilahi begitu presisi. Takaran Ilahi mustahil jomplang. Rejeki setiap hamba pantang tertukar. Mari kita jemput rejeki dengan ikhtiar terbaik dan doa penuh kerendahan hati.
sumber foto: voanews.com/
2


Bismillaah...

Masih dengan seri SOP broker properti. Kali ini Yudana bersemangat sekali ingin membahas kelanjutan dari ikhtiar broker setelah ngiklan, yaitu merespon buyer (red: istilah buyer lebih familiar dan nyaman digunakan di dunia perpialangan properti ketimbang istilah pembeli, maafkan Yudana wahai EYD yang terhormat...).

Iklan yang maknyus, dengan memerhatikan segala kaidah penting dalam beriklan, tentu akan menyita perhatian prospek dan pada akhirnya prospek sudah tak tahan lagi ingin segera menghubungi broker bersangkutan.

Respon dari prospek bisa lewat telepon, sms, Whatsapp call & message, atau pun dari email masuk. Yudana sendiri sudah mendapati respon dari beragam lini media komunikasi itu.


Lalu seperti apa biasanya respon dari prospek itu?

Sederhananya prospek melayangkan pertanyaan terkait detil data properti yang sengaja tidak broker cantumkan semuanya di dalam iklan, satu contohnya datum perihal alamat lengkap properti.

Dalam merespon prospek, broker haruslah mengedepankan kesantunan, wajib pandai mendiksi kosakata terbaik, harus menghindari ambiguitas, artikulasi harus jelas, dan jika perlu harus terdengar lebih merdu dari suara aslinya (yang terakhir ini Anda boleh tidak percaya!).

Sekarang, mari kita kupas bagaimana cara merespon prospek, khususnya buyer, tentunya dengan gaya Yudana punya...

KAIDAH MERESPON BUYER

Berangkat dari sikap positif bahwa setiap nomor baru yang masuk ke gawai broker adalah buyer serius, dan setiap nomor asing yang masuk tidaklah selalu sales kartu kredit dan sales asuransi jiwa yang pantang menyerah, maka responlah dengan baik semua panggilan masuk. 

Broker bisa memulai percakapan dengan sapaan "Halow...", atau dengan ucapan "Selamat (pagi/siang/sore)". Tentu bisa juga dengan salam islami "Assalaamu'alaikum", hanya jika broker yakin buyer tersebut adalah muslim.

Setelah lantunan salam pembuka, maka sampaikan kepada buyer tentang Anda yang siap 100% membantu dengan ungkapan "Ada yang bisa Yudana bantu Pak/Bu?..." Maka biasanya buyer segera membombardir Anda dengan serentetan pertanyaan seputar iklan properti yang broker pasang.

Beres menjawab sejumlah kebutuhan buyer, dan ini berlangsung tidak lebih lima menit, maka selanjutnya upayakanlah broker yang giliran aktif bertanya. Pertanyaan umpan balik inilah yang kemudian menjadi senjata kunci demi suksesnya broker jualan properti. Umpan balik ini harus terus diwiridkan menjadi semacam mantra mematikan demi mengorek detil data buyer...


Apa sajakah mantra mematikan itu?


  1. Yang pertama, pastikan broker bertanya tentang kondisi dompet buyer, apakah buyer bersangkutan benar-benar punya uang atau hanya bertanya-tanya? Bukan bermaksud menodong, tapi di luar sana terlalu banyak buyer HTML, eh maksudnya buyer PHP. HATI-HATI bertanya terkait isi dompet, karena pertanyaan itu sungguh sensitif dan sebagian bisa merasa tersinggung. Maka sekali lagi carilah ungkapan terbaik yang jauh dari kesan KEPO yang dipaksakan. Memang berisiko, tapi inilah jalan broker sejati. Sehingga jika sampai broker tidak mampu mendapatkan informasi dompet buyer, imbasnya sebagian umur broker dihamburkan untuk mengurusi terdakwa buyer PHP. Padalah begitu mudah memilah buyer serius dari buyer PHP. Buyer serius ada 2 macam, dilihat dari skema pembayarannya, ada buyer cash, ada buyer KPR. Buyer cash dapat dengan mudah terdeteksi dengan jawaban mereka: "Saya mau beli cash, Mas..."(memang awalnya bilang cash, yang berarti cash keras, tapi beberapa kasus, rupanya cash secara bertahap, tak masalah). Buyer KPR yang serius adalah mereka yang sudah menyiapkan uang DP (Down Payment) sejumlah 20%-30% dari harga jual properti. Jika ada buyer KPR yang punya uang cash di bawah itu, baiknya abaikan secara halus.
  2. Yang kedua, nama buyer. Pastikan broker mendapatkan informasi nama buyer, bisa dengan ungkapan: "Maaf ini dengan bapak/ibu siapa ya?" Informasi nama buyer ini penting untuk membangun komunikasi yang nyaman, keakraban, dan kelengkapan basis data buyer, sehingga buyer bisa di-follow up kembali di kemudian hari.
  3. Yang ketiga, kastemisasi kebutuhan buyer (lokasi & spesifikasi properti). Ada buyer yang merespon iklan Yudana, rumah baru di Jl.Pacuan Kuda. Apakah rumah baru di Jl.Pacuan kuda itu benar-benar menjadi kebutuhannya? Syukur-syukur jika ya. Tapi sesungguhnya, iklan barulah sebuah pendekatan. Sehingga kembali, broker butuh aktif bertanya detil kebutuhan properti buyer bersangkutan. Tanyakan tentang prioritas lokasi, luas tanah dan luas bangunannya, butuhkah keamanan one gate system, sumber air haruskah PAM, dan detil lainnya.
  4. Yang keempat, pastikan broker mendapatkan nomor WA buyer. Mungkin yang keempat ini begitu subjektif, tapi pengalaman membuktikan bahwa hanya buyer-buyer yang bisa lanjut di WA-lah yang punya kemungkinan closing lebih besar. Tepat setelah pembicaraan di telepon berakhir, lakukanlah ping/test kepada nomor WA buyer. Ikhtiar ini dilakukan sebagai personal branding si broker kepada buyer, juga sebagai follow up tahap awal. Jangan sampai nanti di kemudian hari ketika Yudana sebagai broker menghubungi kembali buyer, buyer bilang "Oh sekarang Pak Susilo Bambang Yudayana jadi pialang properti ya?..."(gubrak!)

Demikianlah sekelumit kecil tentang merespon prospek, semoga sajian kali ini tidak terlalu memuaskan Anda, khususnya Anda-Anda para broker properti yang sudah lebih banyak makan asam-garam di dunia properti dan jauh lebih banyak jam terbang di bisnis self employed ini. 

Sanggahan, bantahan, dan masukan terkait topik ini sangat Yudana tunggu di kolom komentar...
0

Bismillaah...

Selalu dalam pengharapan Yudana bisa beristiqomah menyuguhkan hidangan hangat penggugah selera akal-pikiran di setiap permulaan pekan.


Tulisan ini adalah upaya kelanjutan dari [SERI SOP BROKER PROPERTI] 1. Melisting. Bagi Anda yang belum membacanya, mangga segera klik tautan tersebut.



Langsung saja, apakah yang harus dilakukan seorang broker properti setelah melisting?

Maka jawaban SOP-nya adalah beriklan/ngiklan/berpromosi.


Bersumber dari KBBI, iklan artinya 1 berita pesanan untuk mendorong, membujuk khalayak ramai agar tertarik pada barang dan jasa yang ditawarkan; 2 pemberitahuan kepada khalayak mengenai barang atau jasa yang dijual, dipasang di media massa (seperti surat kabar dan majalah) atau di tempat umum. 


Sedangkan arti promosi (dagang) adalah kegiatan komunikasi untuk meningkatkan volume penjualan dengan pameran, periklanan, demonstrasi, dan usaha lain yang bersifat persuasif; 

Sehingga beriklan dalam kacamata seorang broker properti adalah sepaket upaya yang bisa dia ikhtiarkan demi memperkenalkan, mengumumkan, menawarkan, mengekspos listingannya.

Lalu, media apa saja yang bisa digunakan untuk beriklan properti?
Secara umum, broker properti akan memanfaatkan dua jenis media, daring dan luring. Media daring yang bisa ia gunakan adalah dengan beriklan di market place, seperti rumah.com, rumah123.com, rumahdijual.com, dan urbanindo.com. Selain itu, seorang broker juga bisa memanfaatkan promosi daring dalam cakupan luasnya, seperti promosi email, beriklan di medsos, atau sengaja membuat website atau blog probadi khusus jualan properti, persis seperti yang Yudana ikhtiarkan di website YudanaJualanProperti.com ini.

Sedangkan beriklan luring, seorang broker bisa memanfaatkan layanan iklan kolom dan iklan baris di media cetak, membuat flyer untuk diselipkan dalam lipatan koran, memasang spanduk "DIJUAL" pada properti bersangkutan, memasang arrow sign (rambu tunjuk), atau memasang spanduk listingan salable (listingan dengan harga matang/sudah masuk harga pasar) di beberapa sudut jalan. Selain itu juga seorang broker properti bisa memanfaatkan momen pameran, dan ini biasanya dilakukan bagi broker properti yang bekerja khusus bagi sebuah pengembang, istilahnya in-house marketing.  Sehingga biaya pameran sepenuhnya dibebankan kepada pihak pengembang.

Pertanyaan selanjutnya, beriklan di media manakah yang ciamik menghasilkan penjualan?
Bukan Yudana mengajak Anda untuk berpikiran pragmatis, namun tetap pertanyaan di atas selalu patut dikemukakan karena aktivitas beriklan itu identik dengan menggelontorkan sejumlah biaya. Beriklan gegabah, serampangan, dan membabi buta hanya berhasil menguras isi dompet si broker properti namun tiada hasil apa pun. 

Teringat pesan rekan broker senior Yudana di kantor Confident Property bahwa beriklan itu harus maksimal, eksposif, di media apa pun, daring dan luring. Jadilah member berbayar yang baik di market place dengan mengambil layanan feature listing, dan di waktu yang sama pastikan juga listingan Anda mejeng di iklan properti akhir pekan surat kabar harian lokal.

NAH, jika harus beriklan baik daring maupun luring, apakah tidak jebol di dompet?

Inilah yang tadi Yudana istilahkan dengan beriklan itu jangan serampangan, beriklan itu harus selektif, efektif, penuh perhitungan dan analisis, ah kecuali Anda punya hubungan keluarga dengan CEO web di market place atau punya kenalan baik dengan direktur harian surat kabar, sehingga biaya bukan lagi jadi kendala. Anda bebas nan leluasa membombardir khalayak ramai dan warganet (netizen) dengan iklan properti Anda.

Cukup naikkan listingan properti Anda di layanan dasar dan cukup naikkan listingan layak jual Anda di layanan feature listing. Itu kegiatan praktis yang biasa Yudana lakukan untuk beriklan daring. Cukup naikkan listingan laik jual Anda di iklan kolom atau iklan baris di harian lokal terbitan akhir pekan. Itu cara praktis beriklan luring, namun belakangan Yudana sangat jarang berpromosi luring. 

Analisisnya adalah dewasa ini penduduk bumi sebagian banyak sudah melek internet, sudah bejibun yang pegang gawai (gadget) kemana-mana. Mereka akan mudah melacak segala sesuatu dan menemukan apa pun yang mereka butuhkan tepat di depan mata mereka via gawai. Mencari layanan food delivery terlezat sejagad Bandung, mencari jodoh, mencari kebutuhan hobi, bahkan mencari Tuhan pun bisa dari gawai. Pada akhirnya, media luring memiliki keterbatasan yang begitu berarti untuk menjawab tren generasi milenial ini. 

Namun ini bukan berarti media luring (iklan baris dan iklan kolom) itu seutuhnya ditinggalkan, tenang saja, Anda masih punya peluang jualan jika Anda jeli memaksimalkannya karena tetap pada produk media cetak punya pelanggan setia tersendiri. Mereka yang enggan menyentuh gawai android, malas berkenalan dengan Facebook, bingung cara berbalas pesan di Whatsapp, kikuk bermain Instagram, tak tahu jika telegram yang dulu berbeda dengan Telegram yang sekarang, tidak pernah tahu sesosok apakah Mbah Google itu, merekalah prospek Anda. Ceruk itu akan selalu ada untuk anda garap sebaik mungkin.

Dan jika memang sampai dewasa ini sah-sah saja mengambil dua jalur promosi itu, maka seperti apa tips dan kiat beriklan berorientasi jualan?

Sungguh menarik untuk dikupas, tentang bagaimana langkah strategis kita beriklan berorientasi jualan. Sungguh, Yudana bukan ahlinya. Yudana hanya mem-forward dan mensarikan secukupnya kiat-kiat beriklan buah pengalaman dewa iklan yang pernah Yudana baca ebook-nya (klik di sini untuk mendapatkan ebook jago copywriting). Berikut tips & trik beriklan itu:

  1. YANG PERTAMA, pastikan siapa target prospek Anda,

  2. hal terpenting mengawali ikhitar beriklan adalah Anda dengan begitu matangnya dibekali pemahaman siapa sesungguhnya prospek yang akan Anda bidik. Jika Anda tengah mengincar isi dompet para mahasiswa, maka pelajari dahulu detil demografi mereka; gender mereka, fakultas mereka, rutinitas mereka, rute harian mereka, kendaraan mereka, gaya berbusana mereka, dan semakin detil Anda berhasil mengenali mereka, semakin efektiflah langkah beriklan Anda selanjutnya.

  3. Pastikan Anda mengawali penawaran dengan KATA PERTAMA yang begitu mencuri perhatian,

  4. Yudana menganalisis rupanya kata pertama yang punya kemungkinan besar mendapatkan perhatian di mata prospek adalah kelompok kata bermakna "memberi", semisal: bonus, gratis, hadiah,  voucher; kelompok kata bermakna "kepastian", semisal: garansi, jaminan, testimoni; kelompok kata berkesan "lebih murah" atau dan "lebih untung", contohnya: diskon, cash back; dan juga bermakna "terbatas", contohnya: limited edition, hanya sekali, tinggal 2 unit lagi, sisa 3 lagi.

  5. Pastikan Anda memahami apa itu COPYWRITING,

  6. ada writing, ada copywriting. Writing adalah seni menulis, merangkai kata dalam upaya pemaparan ide. Writing biasa digunakan untuk penggarapan karya tulis seperti artikel dan buku. Sedangkan copywriting adalah seni merangkai kata kunci dalam upaya membentuk pesan menarik. Contoh kasus: seorang broker punya listing rumah di Cikutra, masuk gang, tanah dan bangunan kecil, tiga poin keunggulan dari lisingan itu adalah desain tata letak yang efisien, harga murah, dan tentu lokasi di tengah kota. Maka dengan writing, listingan tersebut akan dibahasakan: "DIJUAL RUMAH MURAH DI TENGAH KOTA, LT/LB 50/23, KT/KM 2/1, SHM, IMB, MASUK GANG, JARANG ADA LHO..." dan copywriting membahasakan penawaran yang sama dengan: "HANYA 175 JUTA, HUNIAN DESAIN TERBAIK DI TENGAH KOTA"

  7. Kondisikan iklan Anda begitu TIME SENSITIVE,

  8. prospek Anda tentunya punya segudang kebutuhan, kepentingan, dan keinginan, sedangkan Anda ingin prospek mendahulukan iklan properti Anda dari penawaran lainnya. Maka buatlah iklan Anda berbatas waktu atau begitu sensitif terhadap waktu, "JIKA TIDAK BOOKING DETIK INI, MAKA RUMAH IDAMAN ANDA AKAN JADI MILIK ORANG LAIN!"

  9. Pastikan Anda tidak sedang BERDUSTA,

  10. orang bilang pialang atau broker properti itu raja kibul, mengumbar hoax ke calon pembeli. Ada benarnya juga sih, bahkan parahnya ada juga yang sampai menjadi tukang tipu beneran berbasis data properti palsu. Ah, tentunya bukan saja bisnis properti yang rawan penipuan, bisnis lainnya pun tak kurang rentan penipuan. 
    Dari-lah itu, jadilah broker properti yang santun, berwibawa, berkarakter, dan beretika (semoga Yudana bisa mengejar profil broker unggul ini...). Sepantasnya broker tidak mengatakan kecuali berdasarkan data valid. Toh jika ada data yang disembunyikan itu bukan berarti berbohong, hanya saja tidak semua kartu harus dibuka di satu kali kesempatan.
    Lalu jika Anda memang seorang broker properti, atau siapa saja yang beriklan dan iklan Anda miskin respon dari prospek, mari kita diskusikan...
0
contoh SKM, Surat Kuasa Memasarkan

Bismillaah...

Menindaklanjuti moody menulis di tulisan ini, kiranya Yudana harus mengazamkan diri untuk dapat istiqomah menulis, mengagendakan jadwal menulis hingga dapat disajikan rutin setiap awal pekan khusus kepada Anda. 

Tulisan Yudana bukanlah sesuatu yang begitu berbobot, namun TETAP berharap ada manfaat yang bisa dipetik bagi siapa pun yang sudi membacanya. Tulisan Yudana pun tidak begitu objektif karena tentunya ada sisi subjektifitas yang SULIT dihindari, makanya Yudana akan sangat berterima kasih jika ada pembaca yang berkenan mengoreksi atau memberikan penilaian dari sudut pandang lain terhadap topik yang diangkat.

Tulisan kali ini insyaAllah akan berseri dalam rangkaian standard operating procedure (S.O.P) seorang broker properti, yaitu melisting.


What is the meaning of melisting?


Sedikit dikupas dari kaidah bahasa, melisting itu kosakata dari bahasa.... Hemmm... malah jadi bingung nih. Terdengar begitu Indonesia karena berawalan me-, tapi kok berakhiran -ing yang juga terdengar begitu Inggris? 

Dari kejanggalan ini, apakah Anda bisa bantu Yudana sekedar menentukan kepemilikan kosakata melisting ini, masuk kosakata bahasa Indonesia atau Inggris? Ahli linguistik sangat diharapakan bantuannya di sini, atau sesiapa saja yang punya ketertarikan dan hubungan baik dengan dunia literasi, mangga bantu Yudana mengakhiri kebingungan ini.

Paling tidak, karena kata melisting lumrah digunakan di dunia perbrokeran (ah kata ini juga punya masalah serupa), ya Yudana berbaik sangka saja kata melisting telah menjadi bahasa serapan Inggris ke Indoensia, seperti kata serapan ngabuburit (Sunda ke Indonesia). 
Jauh ke depannya Yudana berharap para ahli bahasa bisa memasukan kata melisting ke dalam laboratorium bahasa hingga akhirnya mendapatkan bentuk bakunya, seperti kata download menjadi unduh atau upload menjadi unggah.

Jika memang kata melisting sudah (dipaksakan) menjadi Bahasa Indonesia, maka secara etimologi, melisting artinya mendaftar/mengabsen (bedakan dengan makna registrasi), digunakan untuk segala aktifitas  yang berkaitan dengan kegiatan absensi, bisa absensi barang, tempat, nama orang, apa pun. Misal seorang ibu yang keesokan harinya akan pergi ke pasar, di malam harinya ia melisting item belanjaan apa saja yang wajib dibelinya agar di pasar nanti ia tidak disorientasi, membeli barang tersier yang sungguh tidak ia butuhkan. Contoh lain, seorang penjaga  gudang penyimpanan, ia melisting kelengkapan item barang jualan, supaya tidak sampai ada item yang out of stock.

Sedangkan secara terminologi melisting artinya sepaket ikhtiar si broker properti demi mendapatkan rumah baru yang boleh ia bantu jualkan, baik rumah baru itu benar-benar baru dari sisi umur bangunan dan biasanya pihak pemiliknya developer (primary), maupun rumah baru yang dari sisi umur bangunan sudah tidak baru lagi dan dimiliki perseorangan (secondary).

Melisting ini menjadi mata rantai pertama broker properti dalam siklus bekerjanya. Dengan beragam pendekatan kepada para pemilik properti, baik tanah, rumah, atau pun apartemen, ia berharap basis data barang jualannya bertambah. Sehingga dengan bertambahnya basis data listingan itu, menambah pula peluang keberhasilan si broker menjualkan properti orang. Jika si broker tidak melisting itu berarti ia tidak punya basis barang jualan. Namun bukan berarti TERTUTUP peluang baginya mendapatkan komisi. Broker yang malas melisting masih bisa menjualkan properti listingan broker lain. Kegiatan ini lazim disebut co-broking (lain waktu insya Allah akan Yudana bahas di tulisan tersendiri).


Lalu seperti apa sih mekanisme melisting itu?


Setiap broker punya gaya melisting masing-masing dan di bawah ini contoh gaya melisting yang pernah Yudana tahu:


  1. Mencari untuk menemukan properti yang akan dibantu jualkan,

  2. bisa dengan canvasing ke berbagai komplek dan cluster, atau dengan mengakses iklan jual properti di OLX. Mengapa harus di OLX? Karena hanya iklan properti di sanalah yang berpeluang mendapatkan kontak dengan pemilik langsung. Lalu, bagaimana caranya membedakan iklan properti dari pemilik langsung atau dari perantara? Mudah (dan ini sebenarnya rahasia yang haram Yudana bocorkan ke khalayak ramai), periksalah di kolom alamat, apakah si pengiklan mencantumkan alamat lengkap atau tidak. Jika ya, besar kemungkinan pengiklan adalah pemilik langsung. Oya, satu lagi, sumber listing bisa juga dari referensi orang atau pemilik yang langsung menghubungi broker sebab menilai broker bersangkutan bekerja profesional. Salah satu listingan Yudana yang masuk kriteria ini adalah Rumah Mewah di Komplek Elit Alamanda Dago Permai ini.

  3. Menghubungi pemilik dan mendata spesifikasi item,

  4. Segera kontak pihak pemilik untuk mendapatkan detil spesifikasi properti berupa luas tanah, luas bangunan, kelengkapan legalitas, sumber air, daya listrik, tahun kontruksi, orientasi bangunan, dan lainnya.

  5. Membuat janji pertemuan,

  6. setelah broker mendapatkan info detil spesifikasi properti, maka broker menawarkan jasa perantaranya. Broker yang piawai tentu dengan mudah mendapatkan persetujuan dari pihak pemilik, kecuali memang dari pihak pemilik enggan memanfaatkan jasa perantara dan enggan berbagi sedikit rejeki kepada orang lain. Jika persetujuan itu terwujud, maka broker dan pemilik mengatur jadwal ketemuan (kopdar).

  7. Mengisi dan menandatangani MOU pemasaran di SKM (Surat Kuasa Memasarkan),

  8. isi kopdar antara broker dan pemilik properti adalah pengisian formulir SKM sekaligus teken kerja sama. Dalam SKM mengandung info spesifikasi properti, pernyataan pihak broker, besaran komisi yang disetujui, dan jenis listingan apakah ekslusif (hanya broker bersangkutan yang berhak memasarkan) atau open (perantara mana pun boleh memasarkan)

  9. Pengambilan foto properti,

  10. jangan lupa untuk mengambil foto properti. Foto properti digunakan untuk kebutuhan ngiklan di daring (online). Walau bukanlah seorang potografer profesional, seorang broker tetap dituntut memiliki kecakapan dan pengetahuan potografi di level tertentu. Seorang broker ditutut memahami sudut pengambilan gambar. Bermodalkan kamera di hape ia harus mendapatkan foto terbaiknya. Bukan hendak menipu calon pembeli, akan tetapi hasil jepretan harus lebih baik dari penampakan aslinya. Gagal mendapatkan foto terbaik, alamat iklan propertinya miskin respon dari calon pembeli.

  11. Mendapatkan foto kopi legalitas,

  12. pemilik properti yang begitu kooperatif, biasanya telah menyiapkan berkas salinan legalitas propertinya, berupa surat AJB, sertifikat, PBB, dan IMB. Broker tinggal mengajukan permintaan kepada pemilik apakah ia boleh juga menyimpan salinan itu untuk keefektivitasan kerja karena pada akhirnya salinan itu harus juga dimintakan ke pihak pemilik untuk kebutuhan pengurusan akad jual-beli properti. Namun jika pemilik menolak untuk menitipkan salinan berkas propertinya kepada si broker, itu tak jadi masalah.

  13. Pemasangan spanduk,

  14. hanya jika listingan eksklusif atau memang diijinkan oleh pemilik, broker biasanya boleh memasang spandul "DIJUAL" di properti bersangkutan. Permintaan pemasangan spanduk pun biasa dilakukan oleh broker yang basis promosinya luring (offline).
Di luar dari tujuh poin di atas, biasanya dalam melisting sebuah properti, broker yang piawai tidak hanya menargetkan terjalinnya kesepakatan hak memasarkan dari pihak pemilik, tapi juga menargetkan bagaimana harga penawaran dari pihak pemilik adalah harga wajar atau harga pasaran di lokasi tersebut karena biasanya pihak pemilik menentukan harga jual propertinya semau udele dewe, jauh di atas harga pasaran. Imbasnya, selalu tidak baik. Properti yang dijual itu tidak laku-laku.

Bonus dari keberhasilan broker mendapatkan listingan properti dengan harga pasaran adalah iklan terkait properti tersebut akan mendapatkan banyak respon dari para calon pembeli. Ini berarti peluang terjualnya akan lebih besar.

Yudana sendiri masih cukup terkendala dalam mengarahkan pemilik properti untuk membuka penawaran langsung dengan harga pasaran, biasanya pemilik ingin untung besar hingga menaikkan harga jual di atas harga pasaran. Namun pada akhirnya, harga akan turun juga setelah lama tidak terjual. Jadi pertanyaan bagi para pemilik, Anda mau laku cepat atau laku lambat?, jika pada akhirnya properti Anda  harus tunduk patuh kepada harga pasaran...

Yudana sendiri bukan tanpa kendala mendapatkan persetujuan untuk bantu jualkan properti orang. Tidak setiap pemilik mau Yudana bantu jualkan. Pada akhirnya, persetujuan itu tentu tidak bisa dipaksakan. Yudana tidak mungkin memaksa pemilik yang enggan memakai jasa perantara dengan alasan apa pun. Kerja sama antara broker dan pihak pemilik haruslah dibangun di atas sikap kerelaan, bahasan Al-Qurannya an taroodhin minkum

Secara umum, Yudana begitu menikmati kegiatan melisting ini. Melisting bukan melulu tentang menambah basis data barang jualan, tapi dengan melisting Yudana bisa menambah daftar kenalan baru yang itu berarti menambah panjang pula rantai silaturahmi, karena jika Anda ingin dipanjangkan umur dan diluaskan rejeki, fal yasil rohimah, maka sambungkan silaturahmi.

Oya, jika Anda ternyata tengah mencari properti wilayah Bandung raya, kiranya listingan yudana di YudanaJualanProperti.com ini bisa menjadi bahan petimbangan.


0
Previous PostOlder Posts Home