Bismillaah...
Masih dengan kelanjutan dari SOP broker properti. Kali ini
Yudana akan membahas seputar mengantar buyer setelah di pembahasan sebelumnya Yudana mencoba mengulas tentang merespon buyer.
Skenario terbaik dari seorang broker properti dalam merespon buyer adalah pengarahan pembicaraan di telepon kepada opsi survei lokasi (surlok).
Anda perlu bertenang hati dalam berjual-beli properti selama dalam jual beli properti itu Anda dibantu oleh broker properti profesional, yang mengerti bahwa bekerja itu harus dalam urutan rapi SOP tanpa dusta.
Broker properti profesional tentu akan menjaga kode etik perbrokeran. Ia tidak menjual properti abal-abal. Berhasil membantu menjualkan properti milik orang adalah syariatnya mendapatkan rejeki. Sekali saja berlaku culas, oh tentu itu sudah cukup untuk memecatnya seumur hidup dari dunia bisnis properti.
Broker properti menjual properti sebagai barang jualan nyata, ada lokasi dan bentuknya. Bukan menjual serupa barang imajiner. Walau kadang ada proyek properti indent, namun tetaplah properti itu dibangun di atas kavling nyata. Sehingga biar tidak selling cat inside the sack, menjual kucing dalam karung, maka kucingnya harus dikeluarkan dari dalam karung, maka buyer harus tahu seperti apa kondisi nyata dari properti yang akan ia beli. Tugas broker propertilah memastikan itu. Benar satunya dengan cara mengantar buyer survei lokasi.
Dalam mengantar buyer, ada serangkaian prosedur yang penting diperhatikan. Harapannya dengan tertib-patuhnya broker terhadap runtutan prosedur ini, insya Allah tertanam kesan baik dan kepercayaan dari buyer kepada broker.
- Survey Schedule Request,
- Owner Availability Confirmation,
- Schedule Dealing,
- D-Day Escort,
- Meeting Up on The Spot,
- Make Everybody Comfortable,
- Be a Good Listener,
- Catch Buying Signal!,
- Don't Expect Too Much!
atau pengajuan jadwal surlok. Broker properti biasanya bertindak sebagai inisiator. Ia menawarkan bilamana properti bersangkutan akan disurlok. Namun dalam beberapa kasus buyer-lah yang lebih kebelet mengajukan jadwal surlok. Baik broker sebagai inisiator maupun buyer yang ingin segera melihat properti, biasanya tanggal dan jam surlok dimunculkan dari pihak buyer. Akan tetapi broker belum bisa mengiyakan tanggal dan jam tersebut sebelum melakukan konfirmasi ketersediaan dari pihak owner.
pengajuan jadwal surlok dari buyer kemudian dinformasikan kepada pihak owner sebagai ikhtiar konfirmasi. Jika pihak owner tidak berhalangan, maka pengajuan surlok tersebut akan segera disetujui. Namun jika tidak, maka buyer diminta untuk menjadwalkan ulang. Berhalangannya owner bisa disebabkan beberapa alasan, di antaranya: pengajuan surlok ada di hari pekan, sedangkan owner adalah seorang karyawan yang hanya mendapatkan hari libur di akhir pekan. Pengajuan surlok mendadak, hanya beberapa jam di hari yang sama, tentu jika owner tidak sedang di rumah, memang siapa yang akan bukakan pintu?
jika kesepakatan jadwal surlok disetujui ketiga belah pihak (broker-owner-buyer), maka selanjutnya broker properti menyarankan kopdar kepada buyer di satu tempat yang mudah ditemukan dengan objek ancer-ancer yang eye catching, sebelum pada akhirnya keduanya berangkat bersama menuju lokasi properti yang dimaksud.
hari-H pengantaran. Yang perlu diperhatikan di hari-H pengantaran adalah broker mengonfirmasi ulang atau minimal mengingatkan kembali baik pihak buyer maupun owner akan hajat jadwal surlok yang waktunya telah disepakati bersama. Pastikan juga di hari-H pengantaran broker mendapatkan info tentang kendaraan apa yang akan buyer gunakan demi menuju lokasi. Ingat, jangan sampai keluar kosakata motor atau mobil dalam pertanyaan broker ke buyer, cukup bertanya dengan "Bapak/Ibu nanti pakai kendaraan apa ya?" karena itu lebih nyaman baik bagi buyer pengendara mobil maupun motor.
apa yang broker lakukan waktu kopdar bersama buyer? Tidak banyak, hanya mencocokkan kendaraan dan nama buyer bersangkutan. Jangan sampai gegabah, jangan sampai salah orang! Jika dua informasi itu cocok, mari kita kemon! Broker meminta buyer mengikutinya dari belakang. Pastikan broker mengendalikan laju kendaraan, jangan terlalu pelan, apalagi terlalu kencang. Atur kecepatan di rentang yang membuat buyer nyaman mengikuti broker.
tetiba di lokasi properti bersangkutan, buat semua pihak merasa nyaman. Broker tidak berdosa untuk menebar senyum simpul, senyum ringan, asal jangan senyum nyinyir. Broker pun tidak berdosa jika bersikap SKSD, sok kenal sok dekat, kepada kedua belah pihak. Pastikan broker untuk tidak lupa menghilangkan jarak canggung antara buyer dan owner dengan upaya broker saling memerkenalkan nama antara owner dan buyer.
jika properti itu berupa rumah yang masih dihuni, maka tidak banyak yang harus broker lakukan setelahnya. Owner sudah mewakili tugas presentasi properti, dan broker tinggal membahkan satu-dua data pendukung. Broker bertindak seumpama ikan remora yang terus menguntit kemana pun hiu berenang (jangan gagal paham ya, bukan maksud buyer sama dengan hiu!).
broker boleh tidak banyak bersuara, boleh menjadi pendengar yang baik, tapi broker wajib mampu menangkap sinyal beli dari buyer terhadap properti yang dilihatnya. Jika sinyal beli itu tidak terlihat, maka bisa jadi buyer belum cocok dengan properti bersangkutan. Nah, tugas broker selanjutnyalah mengantarkan kembali buyer untuk melihat properti alternatif dan ini biasanya juga sudah disepakati di awal bahwa di hari yang sama akan surlok di beberapa lokasi. Sinyal beli sendiri bisa terlihat dari antusiasme buyer terhadap properti bersangkutan. Mengecat ulang dengan warna favorit, menata ulang interior, hingga ingin merombak beberapa bagian ruangan, adalah contoh dari respon antusiasme itu. Namun sinyal beli tidak selalu berpola demikian, karena buyer memang punya gaya sendiri-sendiri dalam merespon kecocokan. Kadang dengan bahasa tubuh manggut-manggut atau bahkan diam saja. Manusia memang unik, bukan? Jika semua sinyal beli itu tidak ada, bisa jadi sinyal belinya diwakili dengan yang satu ini: buyer segera buka harga penawaran.
Anda pikir setiap buyer yang berhasil Anda antar akan berakhir dengan deal, booking, jualan? Sayangnya tidak. Itu hanyalah fantasi broker pemula. Dan seiring bertambahnya jam terbang, pada akhirnya broker akan terbangun dari tidurnya, akan mulai terbiasa dengan rantai realitas berlumur kegagalan. Pengalaman itu mendewasakan. Boleh berharap, namun jangan berharap lebih. Jangan berharap kepada makhluk, berharaplah kepada Kholik. Sehingga di setiap episode kegagalan tidak disikapi dengan sakit hati dan putus asa, tapi dengan kelapangan dada bahwa jatah rejeki itu sudah dengan begitu adilnya sang Kholik mengaturnya. Takaran Ilahi begitu presisi. Takaran Ilahi mustahil jomplang. Rejeki setiap hamba pantang tertukar. Mari kita jemput rejeki dengan ikhtiar terbaik dan doa penuh kerendahan hati.





mantap, gan....
ReplyDeleteSyukurlah jika tulisan Yudana bisa bermanfaat...
Delete