Guci Lodaya
Sepasang mata melirik kepada sebuah guci warisan orang
tua. Tatapan itu berselimut muslihat.
“Tidak dengan Guci Lodaya itu, Kirkof!”
Nikof segera beranjak demi meraih sebuah guci tua
berlukis harimau putih di sudut ruangan. Kirkof tidak ambil diam. Dengan sigap,
ia berhasil memeluk guci itu. Erat.
“Kembalikan guci itu ke tempatnya semula, Kirkof! Aku
memohon…”
Kirkof menggeleng.
“Itu bagianku sepeninggal Mami-Papi!”
“Tapi aku butuh guci ini. Harga di pasar gelap lumayan
untuk menyambung hidup…”
Nikof menghela napas.
“Yang benar saja! Itu guci keramat, Kak! Harganya nyaris
menyamai harga rumah ini! Aku masih punya sisa tabungan dari hasil freelance. Kakak boleh pake… ”
“Alaah! Paling berapa sih tabunganmu. Dipake sehari
langsung ludes… biaya di Bandung hari gini
selangit!”
Nikof berpaling. Tak ada gunanya meneruskan
perdebatan.
“Hai bocah! Jadi boleh ya aku jual guci ini?”
Nikof bergeming. Ia menaiki anak tangga ke lantai dua.
Ada pekerjaan edit foto di sana.
Di malam berikutnya, hati Nikof resah. Kerasahan ini
jauh melebihi dari sekedar kehilangan guci warisan. Hatinya bertaut
mengkhawatirkan Kirkof. Tak biasanya ia menyalakan layar gawai demi mengontak
Kirkof.
“Lagi makan enak dari hasil jual guci ya, Kak?”,
hatinya menghibur, mencoba mengelabui kondisi diri sebenarnya.
Hape Kirkof tak aktif. Keresahan Nikof semakin
menjadi. Kakak lelakinya itu terlalu liar baginya. Hobi Kirkof di dunia bela
diri nyaris membuatnya tiada. Tendangan di rahangnya membuatnya koma selama
delapan hari. Bukannya jera, lelaki itu malah sekarang menggeluti bisnis
pertandingan MMA.
Pandemi Corona menerjang bisnis MMA Kirkof. Kebijakan social distancing yang mulanya sekedar
anjuran, kini berkembang menjadi peraturan pemerintah daerah. Ratusan jadwal
pertandingan dibatalkan, kesempatan meraup puluhan milyar menguap begitu saja.
“Kirkof, dimana kamu?”
Nikof sudah tidak peduli lagi dengan Guci Lodaya. Ia
ingin Kirkof kembali. Ia khawatir jika pesan mendiang Papi tentang guci itu
menjadi tuah bagi Kirkof: “Sejarah guci ini kelam. Guci ini adalah guci
berdarah. Karena nilai ekonominya, banyak pihak bernafsu memilikinya. Nanti kalo
Papi sudah tiada, jaga baik-baik guci ini…”
Nikof kalut. Imajinasinya melayang.
“Jangan-jangan guci itu meminta darah Kirkof…”
“Tidak-tidak! Darah Kirkof jauh lebih berharga
daripada guci itu, setiap tetesnya jauh lebih berharga…”
Tapi dimana Kirkof?
Putar otak Nikof mencari petunjuk keberadaan Kirkof.
Di kamar kakak lelakinya itu sedikit pun tidak membuatnya lebih baik. Tidak
pula lebih tenang. Tak ada satu petunjuk pun yang bisa ditahbiskan menjadi
sebuah benang merah, kecuali satu: gantungan kunci bermata kepala macan putih
dengan lumuran merah di area mulut.
“Ini apa?”
Malam itu menjadi malam yang panjang bagi Nikof. Kuota
internetnya ia habiskan demi menghimpun informasi misteri kepala macam putih
itu. Puluhan blog ia kunjungi, puluhan laman facebook, puluhan channel Youtube.
Semua mengarah pada satu nama: EBC (Eyang Bodas Community), sebuah perkumpulan free running dengan anggota terbesar sekota
Bandung. Demikian versi daringnya.
“Free running
itu kedok belaka…”, tukas Mang Kohir,seorang mantan anggota EBC.
“Aslinya mereka itu sebuah kartel, mafia. Mereka
beroperasi di lapangan. Mereka merongrong dengan elegan, tapi tidak ragu-ragu
berbuat nekat jika dibutuhkan.”
“Termasuk menghabisi Kirkof-ku?”
“Bisa jadi…”
“Jadi Aku harus bagaimana?”
“Hubungi nomor ini … ”
“Ini nomor siapa, Mang?”
“Kamu gak usah banyak tanya. Hubungi saja…”
Sejenak Nikof menekan kombinasi angka di hapenya.
Kaget bukan kepalang karena nomor itu rupanya sudah pernah ia simpan
sebelumnya.
“Broker.Yudana.Confident.Pro?”
Dahi Nikof berkerut.
“Ada yang ga beres dengan nomor itu?”, tanya Mang Kohir.
“Iya. Rupanya aku sudah pernah nge-save nomor ini. Ini nomor Pak Yudana, broker properti yang bantu
jualkan rumah mendiang Papa…”
“Manusia adalah makhluk sempurna yang pernah Tuhan
ciptakan. Manusia boleh menjadi apa pun sesuka hati. Jadi kalo Mas Ukasya di
versiku yang jago melakukan trik free
running dan Pak Yudana di versimu yang jago jualan properti adalah orang
yang sama, masalah buatmu?”
“Ga masalah sama sekali. Tapi apa yang bisa Pak Yudana
perbuat di luar topik properti?”
“Sudah, jangan turuti kebimbanganmu. Segera hubungi
dia kalo kamu masih berharap Kirkof-mu kembali…”
Di ujung sana, seorang lelaki berotot tengah melakukan
ritual paginya, sepaket pekerjaan lelaki sejati: menggendong anak keempatnya
seraya menjemur pakaian. Sedangkan pikiran lelaki itu terikat dengan sepotong
pindang tongkol di atas penggorengan. “Jangan sampai gosong… jangan sampai
gosong…”
Telepon berdering. Secepat kilat Pak Yudana menyambar
hape Infinix-nya dari kekuasaan anak ketiganya…
“Sebentar ya Mas Kafin, ayah pinjam dulu hapenya.
Lihat Youtube-nya bisa nanti-nanti lagi…”
Anak ke empat Pak Yudana sudah beralih hak pengasuhan
kepada sang istri.
“Telepon dari siapa, Yah?”
“Ini dari pemilik rumah Jl.Lodaya yang sepekan lalu
baru saja di-listing. Mudah-mudahan ada kabar baik…”
Pak Yudana segera manjat pohon jambu air. Di sana ia
mendapatkan sinyal terbaik operator seluluernya. Sesaat terjadi obrolan jarak
jauh tiga meter di atas permukaan bumi.
Pesan telah diterima. Pak Yudana segera meluncur turun
dari pohon jambu air dengan cara tak wajar.
“Ayah harus segera bergegas. Jika Ayah tak kembali,
ikhlaskan ya, Bun. Hasbiyallaah…”
“Ayah mau kemana?!”
Pertanyaan itu belum lekas terjawab hingga Pak Yudana
melesat bersama Beat berjok sobeknya.
====================
Cerpen di atas sebuah hadiah teristimewa dari Yudana kepada pemilik sebuah rumah di Sayap Lodaya yang sekaligus teman lama di SMA Krida Nusantara yang telah memberikan kepercayaan kepada Yudana untuk membantu jualkan rumah tersebut.
Judul Guci Lodaya terinspirasi dari pemandangan interior rumah tersebut yang banyak menampilkan barang-barang antik di beberapa sudut ruangan, termasuk kehadiran sebuah guci di ruang tamu.
Jika Anda berminat menjadi bagian dari cerita Guci Lodaya, ada syaratnya, dan itu mudah. Bantulah kehidupan Nikof dengan membeli rumah ini, sehingga Yudana akan membuat kelanjutan cerita ini menjadi happy ending untuk semua.
Jika Anda berminat dengan rumah Nikof ini, berikut data spesifikasinya:
LT / LB : 220 / 660
KT / KM : 5+1 / 5+1
SHM, Jetpump, 5500w
Harga turun dari 4,18M nego jadi 3,8M nego (Nikof ingin segera terjual rumah Papi-nya)
info lebih lengkap untuk rumah Nikof, Klik di Sini...