Bismillaah...
Selalu dalam pengharapan Yudana bisa beristiqomah menyuguhkan hidangan hangat penggugah selera akal-pikiran di setiap permulaan pekan.
Tulisan ini adalah upaya kelanjutan dari [SERI SOP BROKER PROPERTI] 1. Melisting. Bagi Anda yang belum membacanya, mangga segera klik tautan tersebut.
Langsung saja, apakah yang harus dilakukan seorang broker properti setelah melisting?
Maka jawaban SOP-nya adalah beriklan/ngiklan/berpromosi.
Bersumber dari KBBI, iklan artinya 1 berita pesanan untuk mendorong, membujuk khalayak ramai agar tertarik pada barang dan jasa yang ditawarkan; 2 pemberitahuan kepada khalayak mengenai barang atau jasa yang dijual, dipasang di media massa (seperti surat kabar dan majalah) atau di tempat umum.
Sedangkan arti promosi (dagang) adalah kegiatan komunikasi untuk meningkatkan volume penjualan dengan pameran, periklanan, demonstrasi, dan usaha lain yang bersifat persuasif;
Sehingga beriklan dalam kacamata seorang broker properti adalah sepaket upaya yang bisa dia ikhtiarkan demi memperkenalkan, mengumumkan, menawarkan, mengekspos listingannya.
Lalu, media apa saja yang bisa digunakan untuk beriklan properti?Secara umum, broker properti akan memanfaatkan dua jenis media, daring dan luring. Media daring yang bisa ia gunakan adalah dengan beriklan di market place, seperti rumah.com, rumah123.com, rumahdijual.com, dan urbanindo.com. Selain itu, seorang broker juga bisa memanfaatkan promosi daring dalam cakupan luasnya, seperti promosi email, beriklan di medsos, atau sengaja membuat website atau blog probadi khusus jualan properti, persis seperti yang Yudana ikhtiarkan di website YudanaJualanProperti.com ini.
Sedangkan beriklan luring, seorang broker bisa memanfaatkan layanan iklan kolom dan iklan baris di media cetak, membuat flyer untuk diselipkan dalam lipatan koran, memasang spanduk "DIJUAL" pada properti bersangkutan, memasang arrow sign (rambu tunjuk), atau memasang spanduk listingan salable (listingan dengan harga matang/sudah masuk harga pasar) di beberapa sudut jalan. Selain itu juga seorang broker properti bisa memanfaatkan momen pameran, dan ini biasanya dilakukan bagi broker properti yang bekerja khusus bagi sebuah pengembang, istilahnya in-house marketing. Sehingga biaya pameran sepenuhnya dibebankan kepada pihak pengembang.
Pertanyaan selanjutnya, beriklan di media manakah yang ciamik menghasilkan penjualan?Bukan Yudana mengajak Anda untuk berpikiran pragmatis, namun tetap pertanyaan di atas selalu patut dikemukakan karena aktivitas beriklan itu identik dengan menggelontorkan sejumlah biaya. Beriklan gegabah, serampangan, dan membabi buta hanya berhasil menguras isi dompet si broker properti namun tiada hasil apa pun.
Teringat pesan rekan broker senior Yudana di kantor Confident Property bahwa beriklan itu harus maksimal, eksposif, di media apa pun, daring dan luring. Jadilah member berbayar yang baik di market place dengan mengambil layanan feature listing, dan di waktu yang sama pastikan juga listingan Anda mejeng di iklan properti akhir pekan surat kabar harian lokal.
NAH, jika harus beriklan baik daring maupun luring, apakah tidak jebol di dompet?
Inilah yang tadi Yudana istilahkan dengan beriklan itu jangan serampangan, beriklan itu harus selektif, efektif, penuh perhitungan dan analisis, ah kecuali Anda punya hubungan keluarga dengan CEO web di market place atau punya kenalan baik dengan direktur harian surat kabar, sehingga biaya bukan lagi jadi kendala. Anda bebas nan leluasa membombardir khalayak ramai dan warganet (netizen) dengan iklan properti Anda.
Cukup naikkan listingan properti Anda di layanan dasar dan cukup naikkan listingan layak jual Anda di layanan feature listing. Itu kegiatan praktis yang biasa Yudana lakukan untuk beriklan daring. Cukup naikkan listingan laik jual Anda di iklan kolom atau iklan baris di harian lokal terbitan akhir pekan. Itu cara praktis beriklan luring, namun belakangan Yudana sangat jarang berpromosi luring.
Analisisnya adalah dewasa ini penduduk bumi sebagian banyak sudah melek internet, sudah bejibun yang pegang gawai (gadget) kemana-mana. Mereka akan mudah melacak segala sesuatu dan menemukan apa pun yang mereka butuhkan tepat di depan mata mereka via gawai. Mencari layanan food delivery terlezat sejagad Bandung, mencari jodoh, mencari kebutuhan hobi, bahkan mencari Tuhan pun bisa dari gawai. Pada akhirnya, media luring memiliki keterbatasan yang begitu berarti untuk menjawab tren generasi milenial ini.
Namun ini bukan berarti media luring (iklan baris dan iklan kolom) itu seutuhnya ditinggalkan, tenang saja, Anda masih punya peluang jualan jika Anda jeli memaksimalkannya karena tetap pada produk media cetak punya pelanggan setia tersendiri. Mereka yang enggan menyentuh gawai android, malas berkenalan dengan Facebook, bingung cara berbalas pesan di Whatsapp, kikuk bermain Instagram, tak tahu jika telegram yang dulu berbeda dengan Telegram yang sekarang, tidak pernah tahu sesosok apakah Mbah Google itu, merekalah prospek Anda. Ceruk itu akan selalu ada untuk anda garap sebaik mungkin.
Dan jika memang sampai dewasa ini sah-sah saja mengambil dua jalur promosi itu, maka seperti apa tips dan kiat beriklan berorientasi jualan?
Sungguh menarik untuk dikupas, tentang bagaimana langkah strategis kita beriklan berorientasi jualan. Sungguh, Yudana bukan ahlinya. Yudana hanya mem-forward dan mensarikan secukupnya kiat-kiat beriklan buah pengalaman dewa iklan yang pernah Yudana baca ebook-nya (klik di sini untuk mendapatkan ebook jago copywriting). Berikut tips & trik beriklan itu:
- YANG PERTAMA, pastikan siapa target prospek Anda,
Pastikan Anda mengawali penawaran dengan KATA PERTAMA yang begitu mencuri perhatian,
Pastikan Anda memahami apa itu COPYWRITING,
Kondisikan iklan Anda begitu TIME SENSITIVE,
Pastikan Anda tidak sedang BERDUSTA,
hal terpenting mengawali ikhitar beriklan adalah Anda dengan begitu matangnya dibekali pemahaman siapa sesungguhnya prospek yang akan Anda bidik. Jika Anda tengah mengincar isi dompet para mahasiswa, maka pelajari dahulu detil demografi mereka; gender mereka, fakultas mereka, rutinitas mereka, rute harian mereka, kendaraan mereka, gaya berbusana mereka, dan semakin detil Anda berhasil mengenali mereka, semakin efektiflah langkah beriklan Anda selanjutnya.
Yudana menganalisis rupanya kata pertama yang punya kemungkinan besar mendapatkan perhatian di mata prospek adalah kelompok kata bermakna "memberi", semisal: bonus, gratis, hadiah, voucher; kelompok kata bermakna "kepastian", semisal: garansi, jaminan, testimoni; kelompok kata berkesan "lebih murah" atau dan "lebih untung", contohnya: diskon, cash back; dan juga bermakna "terbatas", contohnya: limited edition, hanya sekali, tinggal 2 unit lagi, sisa 3 lagi.
ada writing, ada copywriting. Writing adalah seni menulis, merangkai kata dalam upaya pemaparan ide. Writing biasa digunakan untuk penggarapan karya tulis seperti artikel dan buku. Sedangkan copywriting adalah seni merangkai kata kunci dalam upaya membentuk pesan menarik. Contoh kasus: seorang broker punya listing rumah di Cikutra, masuk gang, tanah dan bangunan kecil, tiga poin keunggulan dari lisingan itu adalah desain tata letak yang efisien, harga murah, dan tentu lokasi di tengah kota. Maka dengan writing, listingan tersebut akan dibahasakan: "DIJUAL RUMAH MURAH DI TENGAH KOTA, LT/LB 50/23, KT/KM 2/1, SHM, IMB, MASUK GANG, JARANG ADA LHO..." dan copywriting membahasakan penawaran yang sama dengan: "HANYA 175 JUTA, HUNIAN DESAIN TERBAIK DI TENGAH KOTA"
prospek Anda tentunya punya segudang kebutuhan, kepentingan, dan keinginan, sedangkan Anda ingin prospek mendahulukan iklan properti Anda dari penawaran lainnya. Maka buatlah iklan Anda berbatas waktu atau begitu sensitif terhadap waktu, "JIKA TIDAK BOOKING DETIK INI, MAKA RUMAH IDAMAN ANDA AKAN JADI MILIK ORANG LAIN!"
orang bilang pialang atau broker properti itu raja kibul, mengumbar hoax ke calon pembeli. Ada benarnya juga sih, bahkan parahnya ada juga yang sampai menjadi tukang tipu beneran berbasis data properti palsu. Ah, tentunya bukan saja bisnis properti yang rawan penipuan, bisnis lainnya pun tak kurang rentan penipuan.
- Dari-lah itu, jadilah broker properti yang santun, berwibawa, berkarakter, dan beretika (semoga Yudana bisa mengejar profil broker unggul ini...). Sepantasnya broker tidak mengatakan kecuali berdasarkan data valid. Toh jika ada data yang disembunyikan itu bukan berarti berbohong, hanya saja tidak semua kartu harus dibuka di satu kali kesempatan.
- Lalu jika Anda memang seorang broker properti, atau siapa saja yang beriklan dan iklan Anda miskin respon dari prospek, mari kita diskusikan...




0 comments:
Post a Comment