The Lost Girl (Victory Land Ujungberung)

Leave a Comment



THE LOST GIRL

“Sudah kubilang, Asyrin kalian itu kutukan! Biarkan dia pergi!..., atau bahkan mati sekali pun aku tak peduli!”

Papa dan Mama Asyrin bukan tidak mendengar, bahkan jelas ucapan Tante Seli sepenuhnya menyanyat hati. Hanya saja Papa Asyrin baru saja mengalami kebangkrutan total. Semua aset pribadi dijual demi menghindari jeruji prodeo. Kecuali satu: Rumah Baru Renov di Komplek Victory Land. Tak ada pilihan lain demi menyambung hidup kecuali menumpang tinggal di rumah Tante Seli ini.

Cacian stereotip adalah hidangan pembuka di setiap awal hari, penutupnya juga berupa cacian sebelum tidur. Jika Papa dan Mama Asyrin bukan tipe penyabar, mungkin Tante Seli sudah lama disulap dengan seuntai mantra ajaib menjadi sebotol selai kacang yang bisa dinikmati bersama sepotong roti tawar panggang di pagi hari.

“Jadi kita harus bagaimana, Pa?”

“Kita lapor polisi, Ma…”

“Itu perkara sulit, Pa. Polisi hanya akan memroses laporan kehilangan setelah lewat satu kali dua puluh empat jam!”

Jauh melebihi kepelikan memimpin lima perusahaan skala nasional, Papa Asyrin betul butuh menenggak paling tidak tiga butir aspirin.

Mama Asyrin di setiap detiknya terus menyesali diri. Betapa ceroboh dirinya hingga begitu saja percaya kepada tipu muslihat sesosok lelaki berbadan tegap mengaku sebagai ojol.

“Padahal tadi Mama bilang dia tidak pake atribut ojol, kok percaya sih?”

“Iyah Pa, Mama juga bingung. Sepertinya Mama kena hipnotis, Pa…”

“Tuh kan sekarang kena karmanya. Sudah dari dulu Papa ingetin kalo Mama ga usah lihat acara Rumah Kuya itu! Ga manfaat dunia-akhirat. Sekarang kita harus membayar mahal…”

“Iya Pa, Mama janji ga akan lihat acara itu lagi…”

Detik-detik berjalan sangat lambat. Kehilangan Asyrin satu jam seperti sudah melintasi kurun dua periode pemilu. Dibayang-bayangi rongrongan verbal Tante Seli, Mama Asyrin hanya bisa berdzikir, memohon ketenangan. Sedangkan Papa Asyrin, terus hilir-mudik di depan Si Kinoy, kucing angora kesayangan Asyrin yang tergeletak santai di teras.

Pengalaman berbisnis selama lebih dari dua puluh tahun, tak berbekas saat itu. Logikanya mendadak aus, tak mampu lagi berpikir kritis kecuali satu: menghubungi siapa pun di daftar kontak. Tapi siapa?

Papa Asyrin bukanlah pendekar saham yang pandai memainkan pedang spekulasi. Salah-salah pedang itu malah memutus urat nadi sendiri.

“Kalo lu mau berjudi, kini saatnya, ” hatinya memaksa.

“Bismillaah…”

Hape terbaik keluaran Samsung menyala. Dengan beberapa ketukan lelaki itu sudah masuk ke isi menu kontaknya. Dengan mata terpejam, ia meluncur-bebaskan pergeseran jempolnya. Gawai Samsungnya mendadak menjadi mesin judi. Ia sungguh berharap jackpot.

Jempolnya baru saja mengetuk sebuah nama kontak di sana. Tak sabar siapakah sosok manusia yang diharapkan menjadi malaikat penolongnya.

“Broker.Yudana.Confident.Pro”

Sesaat ia menimang. Mengapa harus lelaki itu? Apa istimewanya? Dengan cara seperti apa seorang broker properti membantu kasus penculikan di siang bolong?

“Ah, peduli amat!”

Berjarak 31,1 Km, hape Infinix seorang lelaki berdering. Ringtone yang terdengar tidak istimewa.

“Pak Iqbal…,” sergah Yudana.

Di hape Yudana, Pak Iqbal adalah salah satu dari daftar panjang pemilik rumah yang belum laku. Otak brokernya berharap jika Pak Iqbal sedang B.U. (Butuh Uang), sehingga berimbas kepada kebijakan penurunan harga tawar rumahnya di Victory Land.

“Soal harga rumah itu bisa diatur. Sekarang ada urusan yang lebih urgent! Asyrinku ada yang nyulik!”

“Waduh, bakalan pelik nih!”

Hati Yudana mengadu, satu jam lagi ia harus sudah bertemu pemilik rumah lain. Setelah itu ia harus mengecek arrow sign di Jl.Kacapiring yang sering miring diterpa angin resesi. 

Berharap pahala, ia membatalkan semua agenda itu.

Niat menolongnya tinggi. Yudana membuka diri dengan segala potensi dan kekurangan diri demi menemukan keberadaan Asyrin. Tapi harus dimulai dari mana?

Data. Selama ini ia berkutat dengan data. Data adalah senjata broker. Broker pemenang adalah broker yang menguasai data, menganalisis data dan bertindak dengan strategi matang-terencana. Insting broker Yudana bekerja, ditambah sedikit sentuhan intuisi.

Data terpenting sudah Yudana kantongi: sifat fisik Asyrin, pakaian yang dikenakan, sisanya walloohu a’lam bish-showaab.

Bersama Beat kesayangan yang telah sobek kulit joknya, Yudana melahap garis rute sasaran. Di area mana kira-kira Yudana menyisir keberadaan Asyrin? Sekali lagi, ini tentang insting broker yang sudah bertahun-tahun teruji dan sedikit sentuhan intuisi. Semoga tak meleset.

Dua jam berlalu serasa sia-sia. Belum terendus keberadaan Asyrin.

Ragu datangnya sering tak terduga. Sekuat tenaga Yudana memertahankan ayat “Janganlah kamu berputus asa dari pertolongan Allah…”, sekuat itu pula keraguan menghantui ikhtiar pencarian ini.

“Yaa Allah… kemana lagi hamba harus mencarinya?”

Hingga seketika…

“Duaaarh@#&$%##...”

Dari arah jam tiga, sebuah motor metik keluaran anyar, menabrak tiang listrik yang tak bersalah kepada siapa pun, kecuali satu: tiang listrik itu membiarkan dirinya menjadi alat peraga dari calon legislatif Partai Busa Sabun. (FYI: Partai Busa Sabun adalah partai tertengik di negeri ini, beranggotakan serigala haus darah rakyat jelata)

Dua korban resmi jatuh dari kecelakaan tunggal itu. Satu lelaki dengan helm full-face dan satu gadis kecil dengan pakaian…

“Asyrin?...”

Yudana berusaha memastikan sesuatu.

Dari sifat fisik, pakaian yang dikenakan, juga susunan DNA-nya, jelas itu Asyrin.

“Aduh… aduh…, ” rintihan pilu kelabu sang penculik apes.

Sang penculik masih terkapar di pinggir selokan ketika Yudana memutuskan untuk meninggalkannya sendiri. Asyrin aman bersama Yudana.

Sebulan kemudian, Pak Iqbal dan Yudana berjabat tangan di kantor notaris.

“Alhamdulillaah, berkat bantuan Pa Yudana rumah Victory Landku terjual dengan harga sangat memuaskan…”

“Alhamdulillaah ya Pak. Yudana juga berterima kasih atas kepercayaan Pak Iqbal menitipkan pemasaran rumah Bapak ke pihak Yudana. Semoga transaksi ini berlimpah keberkahan, memberikan angin segar untuk kembangkitan kembali bisnis Pak Iqbal…”

“”Aamiin Ya Allah, Aamiin…”

Sesaat ketika akan undur diri dari peradaban manusia bumi, tangan kanan Yudana digamit.

“Ini ada sedikit untuk Pa Yudana sekeluarga…”

“Eh ini apa ya, Pak?”

“Mohon diterima ya. Maaf ga banyak.”

“Eh Pak, Yudana sudah dapat hak Yudana di komisi…”

“Iya ga papa. Ini uang halal.”

Asyrin mendekat hingga melekat ke samping papanya.

“Om terima kasih ya sudah bantuin Papa dan Asyrin…”

Yudana mengangguk bercampur sunggingan senyum.


Data Properti:
- LT/LB : 80/50
- KT/KM : 2/1
- SHM, IMB
- Jetpump, 1300w
- Harga 572jt nego... 
Next PostNewer Post Previous PostOlder Post Home

0 comments:

Post a Comment