THE LOST GIRL
“Sudah kubilang, Asyrin kalian itu kutukan! Biarkan dia
pergi!..., atau bahkan mati sekali pun aku tak peduli!”
Papa dan Mama Asyrin bukan tidak mendengar, bahkan
jelas ucapan Tante Seli sepenuhnya menyanyat hati. Hanya saja Papa Asyrin baru
saja mengalami kebangkrutan total. Semua aset pribadi dijual demi menghindari
jeruji prodeo. Kecuali satu: Rumah Baru Renov di Komplek Victory Land. Tak ada
pilihan lain demi menyambung hidup kecuali menumpang tinggal di rumah Tante Seli
ini.
“Kita lapor polisi, Ma…”
Jauh melebihi kepelikan memimpin lima perusahaan skala
nasional, Papa Asyrin betul butuh menenggak paling tidak tiga butir aspirin.
Mama Asyrin di setiap detiknya terus menyesali diri. Betapa
ceroboh dirinya hingga begitu saja percaya kepada tipu muslihat sesosok lelaki
berbadan tegap mengaku sebagai ojol.
“Padahal tadi Mama bilang dia tidak pake atribut ojol,
kok percaya sih?”
“Iyah Pa, Mama juga bingung. Sepertinya Mama kena
hipnotis, Pa…”
“Tuh kan sekarang kena karmanya. Sudah dari dulu Papa ingetin
kalo Mama ga usah lihat acara Rumah Kuya itu! Ga manfaat dunia-akhirat.
Sekarang kita harus membayar mahal…”
“Iya Pa, Mama janji ga akan lihat acara itu lagi…”
Pengalaman berbisnis selama lebih dari dua puluh
tahun, tak berbekas saat itu. Logikanya mendadak aus, tak mampu lagi berpikir
kritis kecuali satu: menghubungi siapa pun di daftar kontak. Tapi siapa?
Papa Asyrin bukanlah pendekar saham yang pandai memainkan
pedang spekulasi. Salah-salah pedang itu malah memutus urat nadi sendiri.
“Kalo lu mau berjudi, kini saatnya, ” hatinya memaksa.
“Bismillaah…”
Hape terbaik keluaran Samsung menyala. Dengan beberapa
ketukan lelaki itu sudah masuk ke isi menu kontaknya. Dengan mata terpejam, ia
meluncur-bebaskan pergeseran jempolnya. Gawai Samsungnya mendadak menjadi mesin
judi. Ia sungguh berharap jackpot.
Jempolnya baru saja mengetuk sebuah nama kontak di
sana. Tak sabar siapakah sosok manusia yang diharapkan menjadi malaikat
penolongnya.
Sesaat ia menimang. Mengapa harus lelaki itu? Apa istimewanya?
Dengan cara seperti apa seorang broker properti membantu kasus penculikan di
siang bolong?
“Ah, peduli amat!”
Berjarak 31,1 Km, hape Infinix seorang lelaki
berdering. Ringtone yang terdengar tidak istimewa.
“Pak Iqbal…,” sergah Yudana.
Di hape Yudana, Pak Iqbal adalah salah satu dari
daftar panjang pemilik rumah yang belum laku. Otak brokernya berharap jika Pak
Iqbal sedang B.U. (Butuh Uang), sehingga berimbas kepada kebijakan penurunan
harga tawar rumahnya di Victory Land.
“Soal harga rumah itu bisa diatur. Sekarang ada urusan
yang lebih urgent! Asyrinku ada yang nyulik!”
“Waduh, bakalan pelik nih!”
Hati Yudana mengadu, satu jam lagi ia harus sudah bertemu
pemilik rumah lain. Setelah itu ia harus mengecek arrow sign di Jl.Kacapiring
yang sering miring diterpa angin resesi.
Berharap pahala, ia membatalkan semua
agenda itu.
Niat menolongnya tinggi. Yudana membuka diri dengan
segala potensi dan kekurangan diri demi menemukan keberadaan Asyrin. Tapi harus
dimulai dari mana?
Data. Selama ini ia berkutat dengan data. Data adalah
senjata broker. Broker pemenang adalah broker yang menguasai data, menganalisis
data dan bertindak dengan strategi matang-terencana. Insting broker Yudana
bekerja, ditambah sedikit sentuhan intuisi.
Data terpenting sudah Yudana kantongi: sifat fisik
Asyrin, pakaian yang dikenakan, sisanya walloohu a’lam bish-showaab.
Bersama Beat kesayangan yang telah sobek kulit joknya,
Yudana melahap garis rute sasaran. Di area mana kira-kira Yudana menyisir
keberadaan Asyrin? Sekali lagi, ini tentang insting broker yang sudah bertahun-tahun
teruji dan sedikit sentuhan intuisi. Semoga tak meleset.
Dua jam berlalu serasa sia-sia. Belum terendus
keberadaan Asyrin.
Ragu datangnya sering tak terduga. Sekuat tenaga
Yudana memertahankan ayat “Janganlah kamu berputus asa dari pertolongan Allah…”,
sekuat itu pula keraguan menghantui ikhtiar pencarian ini.
“Yaa Allah… kemana lagi hamba harus mencarinya?”
“Duaaarh@#&$%##...”
Dari arah jam tiga, sebuah motor metik keluaran anyar,
menabrak tiang listrik yang tak bersalah kepada siapa pun, kecuali satu: tiang
listrik itu membiarkan dirinya menjadi alat peraga dari calon legislatif Partai
Busa Sabun. (FYI: Partai Busa Sabun adalah partai tertengik di negeri ini, beranggotakan serigala haus darah rakyat jelata)
Dua korban resmi jatuh dari kecelakaan tunggal itu. Satu
lelaki dengan helm full-face dan satu gadis kecil dengan pakaian…
“Asyrin?...”
Yudana berusaha memastikan sesuatu.
Dari sifat fisik, pakaian yang dikenakan, juga susunan
DNA-nya, jelas itu Asyrin.
Sang penculik masih terkapar di pinggir selokan ketika
Yudana memutuskan untuk meninggalkannya sendiri. Asyrin aman bersama Yudana.
Sebulan kemudian, Pak Iqbal dan Yudana berjabat tangan
di kantor notaris.
“Alhamdulillaah, berkat bantuan Pa Yudana rumah
Victory Landku terjual dengan harga sangat memuaskan…”
“Alhamdulillaah ya Pak. Yudana juga berterima kasih
atas kepercayaan Pak Iqbal menitipkan pemasaran rumah Bapak ke pihak Yudana. Semoga
transaksi ini berlimpah keberkahan, memberikan angin segar untuk kembangkitan
kembali bisnis Pak Iqbal…”
“”Aamiin Ya Allah, Aamiin…”
Sesaat ketika akan undur diri dari peradaban manusia
bumi, tangan kanan Yudana digamit.
“Ini ada sedikit untuk Pa Yudana sekeluarga…”
“Eh ini apa ya, Pak?”
“Mohon diterima ya. Maaf ga banyak.”
“Eh Pak, Yudana sudah dapat hak Yudana di komisi…”
“Iya ga papa. Ini uang halal.”
Asyrin mendekat hingga melekat ke samping papanya.
“Om terima kasih ya sudah bantuin Papa dan Asyrin…”
Yudana mengangguk bercampur sunggingan senyum.
Data Properti:
- LT/LB : 80/50
- KT/KM : 2/1
- SHM, IMB
- Jetpump, 1300w
- Harga 572jt nego...





0 comments:
Post a Comment